About Me

Sahabat Dan Cinta

Jumat, 30 Juli 2010
Libur kenaikan kelas ini terasa hampa bagi Echa. Memang, hatinya sudah lega karena dia naik kelas dengan nilai yang lumayan dan berhasil masuk kelas IPA 1. Tapi, saat ini Echa lagi sendirian, selepas dari Aris pada tanggal 15 Mei yang lalu, Echa masih takut untuk pacaran karena trauma. Apa lagi cara putusnya sadis banget! Hari-hari liburannya hanya diisi dengan SMSan dengan Hadi dan Kalilla yang memang sedang dalam tahap pedekate, Echa lah yang membantu mereka.

Realita bahwa dua sahabatnya saling menyanyangi sebenernya bukan berita bahagia untuknya, jauh dilubuk hatinya, sebenarnya Echa menyukai Hadi. Sebelum libur kenaikan kelas, Echa sudah memberanikan jujur tentang perasaannya kepada Hadi dalam moment jujur-jujuran saat nge-sisha. Jujur yang dimaksud kali ini bukanlah nembak! Hanya jujur!

Saat Echa berkata,
“Di, sebenernya kan gue sempet naksir lu dulu! Waktu kita kelas X, pas marching band SMA kita pertama kali dibentuk…”.

Lalu, sebuah kalimat mengejutkan terlontar dari bibir Hadi,
“Hah!? Serius lu!? Pantesan, waktu gue pertama kali ngeliat lu, kaya’nya ini anak salting-salting gitu sama gue! He he he… Ternyata naksir gue toh…! Hmm, kalo boleh jujur juga, sebenernya sih gue juga sempet naksir sama lu! Soalnya lu beda sama cewe-cewe lain!”.

Saat itu hati Echa menyesal, kenapa ia tidak mengenal Hadi dari dulu. Tapi, biarlah, mungkin mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersatu karena kini Hadi hanya menginginkan Kalilla sebagai pengisi hatinya. Dan mereka berdua adalah sahabat Echa. Sudah seharusnya Echa mendukung hubungan mereka.


Pagi itu terasa bosan. Akhirnya Echa mengirim SMS kepada Hadi untuk sekedar menyeka rasa bosan yang ada dibenaknya..

“Hy Di… Lu gy ngap?”.
“W gi bingung nih, Cha!”.
“Bingung napa? Cerita dh ma w, nti w cba Bantu lu…”.
“W dah nembak Kalilla kmren! Tpi blm dijwb ma dia!”.
“Lu nembaknya pke media pa?”.
“Lwat SMS lah!”.
“Mw w tnyain k Kalilla?”.
“Blh jg tuh! Ntr jgn lpa ksih tw w! Ok?”.
“Iya bawel!”.

Akhirnya Echa mengirim SMS kepada Kalilla,
“Kal, w denger2 lu dah ditmbak Hadi ya?”.
“Ya… Tp gw tkut bgd Cha! Tkut kjadian gw ma Kevin en Aldy trulang lgi! Gw gak mw kya gt!”.
“Trulang gmn?”.
“Ya… Disaat gw dah syng ma mrka, mrka mlah ninggalin gw en nglupain gw gtu ja! Gw gak mw ky gtu lgi Cha!”.
“Lu tnang ja, Kal! W brani jamin Hadi gak bkal ky gtu! W dah lma knal ma dy!”.
“Hmm… Gw msi bingung, Cha!”,
“Ywdh, lu mkir2 ja dlu! Py, pzt’a lu gak akan kcwa jdian ma Hadi. Bnyk loh, cwe2 yg naksir dy, py te2p ja dy mlih lu! Lu bruntung tw!”.
“Ya ya ya… Gw tw Cha! Thanks ya!”.

Setelah merasa cukup mengambil informasi dari Kalilla, Echa segera SMS Hadi untuk laporan.
“Di, w dah tny Kalilla…”.
“Pa kta’na”.
“Kta’a, dy tkut msa-llu’a trulang!”.
“Msalalu’na yg mna?”.
“Wkty dy ma Kevin en Aldy…”.
“Mang’na mrka ngpain Kalila?”.
“Pas Kalilla dah bneran syng ma mrka, mrka mlah ninggalin dy en nglupain dy gtu ja…”.
“Tega amat!? W mah gak bkal kya gtu Cha! Lu tw khn, Cha?”.
“Ya… W tw! W jga dah blg gtu! Py Kalilla mci ragu…”.
“Sbnernya Kalilla ska ma w gak?”.
“Ska.. Dy cma tkut khlangan ja!”.
“Yaah… Bntuin w donk!”.
“Hmm… Gmn klo qt krmh’a ja? Klo ky gtu, w jamin lngsung djwb!”.
“Kesan’na maksa amat?”.
“Drpd lu menderita? Mw gak? Gak jg gpp!”.
“Iyy deh! Kpn?”.
“Bsk! Tgl 1 July! Gmn? Hari tu w bisa!”.
“Ok!”.
“Ktmuan dmn?”.
“Dpn gang rmh w ja!”.
“Ywdh, abis ashar w dtg!”.

Setelah mengirim SMS yang terakhir untuk Hadi, Echa meletakkan hapenya di meja dan mulai merenggangkan jari-jemarinya. Pegal rasanya SMSan sekian lama.


Menjelang sore, Echa membaca kembali semua SMS dari Hadi dan Kalilla karena lagi gak ada kerjaan. Bodohnya Echa, dia malah menawarkan diri mengantar Hadi ke rumah Kalilla untuk menjemput jawaban cinta Hadi! Berarti Echa akan menjadi saksi mereka! Oooh… Echa jadi gak bisa ngebayangin bagaimana jadinya besok. Apkah Echa menahan sakit hati? Ahh, apa saat itu Echa lagi dipengaruhi hipnotis, sampai-sampai dia gak sadar udah daftar mati.

Tapi sekali lagi Echa tanamkan, bahwa Hadi dan Kalilla adalah sahabat Echa! Dan Echa harus bersyukur Hadi menjadikannya sahabat terbaik yang dipercaya membantunya untuk jadian sama Kalilla.

“Hfuh… Oke! Gue akan bantu mereka! Kalau pun nantinya gue akan nangis ngeliat mereka bersatu, sebisa mungkin gue tahan air mata gue! Di rumah baru gue lepasin semuanya…!” batinnya.

Mungkin kali ini Echa belajar untuk memilih antara persahabatan dan cinta. Dan jalan persahabatan yang Echa pilih tidak akan membuatnya menyesal. Bahkan akan membuatnya bangga!

Di dunia ini banyak yang namanya mantan sahabat! Banyak perkenalan dengan unsur cinta, akan berakhir berantakan! Lain halnya dengan perkenalan dengan unsur teman yang hingga menjadi sahabat sejadi dan berakhir abadi.

Dan satu keyakinan lagi yang tidak akan membuat Echa menyesal memilih persahabatan. Yaitu bahwa dengan sahabat, kita bisa lebih terbuka dan bebas untuk curhat tanpa beban satu pun. Sahabat tidak akan saling menyakiti, malah akan saling memberi pelajaran yang punuh makna.


Keesokan harinya,
Malas rasanya bangun pagi kalau lagi liburan gini. Tapi, ini udah jam 9 pagi, kalau masih belum bangun, pasti akan ada makhluk yang akan ngejailin Echa yang lagi tidur. Sebelum keluar dari kamarnya, dia terduduk dikursi meja belajar sambil menatap kalender dan mendengus pasrah.

“Hhfuuh… Apa harus hari ini?” tanya Echa pada dirinya sendiri.

Bosan menatap kalender yang gak bisa ngejawab pertanyaannya, Echa keluar kamar, mulai meraih handuk, ddan masuk ke kamar mandi.

Setengah jam berlalu, Echa keluar kamar mandi dengan disambut ocehan menyebalkan dari adiknya yang sepertinya kebelet panggilan alam. He he he.

Echa menuju komputer dan mulai menekan tombol power di CPU. Sekian menit berlalu, kini layar monitor menampakkan tampilan user. Echa meng-klik iconnya dan mengetik id-nya lalu menekan tombol enter pada keyboard.

Dalam layar desktop, dia meng-klik sebuah folder bernama “Drama Cinta”, folder tersebut berisi judul-judul novel realita buatannya. Iseng, Echa membuka judul “Ternyata, Setia Itu Susah!” yang dibuatnya dari semasa SMP dulu.
Cengar cengir sendiri didepan komputer seperti layaknya orang autis, itu lah yang terjadi pada diri Echa saat ini jika mengenang masa-lalu.

“Ha ha ha… Gue suka sama Thama yang jelas-jelas lebih pendek dari gue! Dia lebih pantes jadi ade gue!” ucap Echa.

“Hmf, dulu gue suka sama Thama, gue seneng banget kalo lagi latihan marching karena posisi bass sama belira deketan…”.

“Sekarang, gue lagi-lagi suka sama salah satu anggota marching! Dan pemain bass pula! Parahnya, gue hanya mimpi ngedapetin dia! Gue sama dia Cuma sebates sahabat! Yaa… Cowo itu Hadi! Dan hari ini, gue bakal jadi saksi dia jadian sama Kalilla…”.
“Haaaaahhhh…. Ya udah lah! Mungkin ini takdir gue kali!”.


Sekitar pukkul 14.00, Echa mematikan komputer dan beralih menuju kamar mandi. Satu jam kemudian, Echa kembali memasuki kamarnya dan mulai mengobrak-ngabrik isi lemarinya.

“Aaaah… Gue bingung!” ucapnya dengan aksi melempar baju ke kasur.

Tiba-tiba perhatian Echa tertuju pada sebuah baju berwarna pink tua dan sebuah celana berwarna putih. Pakaian tersebut dulu pernah ia pakai ketika balikan sama Aris. Sebuah peristiwa yang seharusnya tidak pernah terjadi dalam kehidupannya.

“Apa gue pake baju itu aja, ya?” tanyanya dalam hati.

Tanap berfikir panjang, Echa langsung menyambar pakaian tersebut dan mengenakannya.


Seusai sholat Ashar, Echa berjalan keluar rumah. Tetapi setelah memastikan seluruh pintu dan jendela tertutup rapat dan terkunci, maklum lah, walau lagi liburan, seluruh anggota keluarganya masih pada sibuk sama urusan masing-masing.
Sesampainya Echa didepan gang rumah Hadi, dia segera mengirim SMS untuk Hadi berhubung Echa merasa asing dengan kawasan itu.

“Di, w dah smpe d dpn gang rmh lu, nih! Rmh lu yg mna? Lu kcini dunk! W ga knal daerah sini! Tkut!”.
“Sabar, Cha… W mo ngntern Kk w k Rmh Skt dlu…”
“Ouwh… Jgn lma2, iy! W tkt neh!”.
“Y!”.

Beberapa menit kemudian, dari kejauhan Echa melihat seorang cowo yang dia kenal menaiki motor sedang menuju kearahnya. Cowo itu ternyata Hadi.

“Gila! Keren amat nih anak! Baru pertama kali gue liat dia bawa motor! Hfuh, harusnya momen ini gue abadiin!” ucapnya dalam hati.

“Cha, naik!” ucap Hadi memecah keheranan Echa.

“Hah!? Naik…? Gue dibonceng Hadi? Oh my god… Mimpi apa gue semalem?” tanya Echa dalam hati.

“Woy, buruan!” kata Hadi.

“Iya bawel… Mau ke rumah Kalilla pake motor…?” tanya Echa.

“Ya enggak lah!” jawab Hadi.

“Terus, gue maul u bawa kemana?” tanya Echa.

“Ke rumah gue!” jawab Hadi.

“Rumah lu!?” tanya Echa tak percaya.

Belum sempat Hadi menjawabnya, motor sudah berhenti.

“Rumah gue yang pager putih. Tepat dibelakang rumah ini. Kalo lu mau, tunggu di rumah gue aja!” kata Hadi.

“Hmm… Makasih deh, gue nunggu lu disini aja! Tapi lu jangan lama-lama…” kata Echa.

“Ya udah, terserah lu!” kata Hadi sambil menuju rumahya, tak lama kemudian Hadi keluar bersama seorang cewe, itu Kakaknya.
“Cha, bentar, ya!” ucap Hadi.

“Bentar ya, De…” sahut Kakaknya Hadi.

“Iya…” balas Echa dengan senyum menyedihkan.


Suka duka Echa saat menunggu Hadi takkan terlupa selama sisa hidupnya. Ada rasa takut karena banya ayam-ayam yang berkeliaran disekitar situ (Echa takut ayam), takut karena dia gak kenal wilayah ini, takut karena udah mulai banyak orang-orang yang menyuguhinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya agak kesal. Dan parahnya lagi, sudah 30 menit berlalu dan Hadi tak kunjung menampakkan dirinya kembali.


Berkali-kali Echa SMS Hadi, namun balasannya tetap sama! “tnggu bntr, Cha!”. Hadi juga menyuruh Echa untuk menunggu dirumahnya saja kalau takut, tapi Echa llebih gak berani.

Akhirnya, setelah sekian lama menunggu Hadi, cowo itu dating juga! Lega rasanya! Seusah Hadi menaruh motor di rumah, mereka berdua pergi menuju rumah Kalilla.

“Huaah… Lama banget, sih lu!” Gue takut tau!” ucap Echa.

“Sorry deh! Tapi, pas gue nganter ke Rumah Sakit depan, ternyata ATM nya gak bisa! Ya udah, Kakak gue minta dianterin ke salon yang di Krukut. Jadi lama deh…” balas Hadi.

“Ouwh… Pantes!” ucap Echa.

“Emang lu takut apa sih?” tanya Hadi.

“Ayam sama tetangga-tetangga lu tuh!” jawab Echa.

“Ha ha ha… Mereka nanya yang macem-macem ya?” Lagian lu udah gue suruh nunggu di rumah aja gak mau!” ucap Hadi.

“Gue gak berani tau!” kata Echa.

“Nah, apa lagi gue, nih!” Kerumah Kalilla!? Nanti pasti gue diem aja nih… Gak berani ngomong apa-apa…” kata Hadi.

“Yaaahh… Lu kan beda, Di! Lu kan mau ke rumah calon cewe lu! Sekalian kenalan sama calon mertua en calon ipar! He he he…” ucap Echa.

“He he he… Kaya acaran lamaran aja, Cha!?” tanya Hadi.

“Ya… Gak apa-apa dong!” Kan seru jadinya!” Harusnya tadi lu ajak keluarga lu juga! Terus, siapin cincinnya… He he he…” jawab Echa cengar-cengir. “Oia, siapin penghulu juga! Biar gue deh yang jadi saksinya!”.

“Ha ha ha… Cha… Cha… Khayalan lu boleh juga tuh! Tapi ketinggian…” ucap Hadi.

“Tapi seru kan? Lagian kalo mau mengkhayal tuh jangan tanggung-tanggung! Sekalian aja yang prefect! Mumpung mengkhayal masih gratis! He he he…” balas Echa.

“He he he… Echa… Echa… Ada-ada aja lu!” kata Hadi. “Oia, Sabtu depan, kalo lu mau, dateng ya ke acara nikahan Kakak gue! Ajak Kalilla juga…”.

“Hmm… Insyaallah ya… Kalilla kan juga masih sakit! Selain gue sama Kalilla, siapa lagi yang lu ajak?” tanya Echa.

“Cuma Intan sama Andre! Gue Cuma ngundang temen-temen yang deket banget aja sama gue…” jawab Hadi.


Tak terasa mereka sudah hampir sampai di rumah Kalilla. Sebelum menuju rumah Kalilla yang kurang lebih tinggal 3 meter lagi, Echa berhenti untuk menelfon Kalilla dengan tujuan memastikan bahwa Kalilla ada di rumah.

“Assalamu’alaikum… Kalilla…?” ucap Echa yang berada di depan pintu rumah, sementara Hadi hanya menunggu di depan pintu gerbang.

“Echa…? Lu ngapain sih? Sama Hadi lagi!?” tanya Kalilla setengah berbisik.

“Hadi mau ngomong tuh!” jawab Echa. “Di, nih ngomong sendiri!”.

“Lu aja, Cha…” balas Hadi.

“Hmm… Payah lu!” kata Echa.


Echa mengutarakan tujuannya bersama Hadi datang ke rumah Kalilla sore-sore gini. Dengan bahasa yang agak bertele-tele, akhirnya kedua sahabat Echa resmi berpacaran pada tanggal 1 July pukul 16.46 WIB. Tak lupa Echa memberi tahu tentang ajakan Hadi ke acara pernikahan Kakaknya. Setelah semua urusan selesai, Hadi dan Echa meninggalkan rumah itu.

“Gimana?” tanya Echa.

“Jantungan! Tapi lega… Thanks ya, Cha!” jawab Hadi.

“Sama-sama… Gue ikut seneng kalo sahabat gue seneng… Lagi pula, gue juga pengen ngebales kebaikan lu! Waktu itu lu udah mau bantuin gue balikan sama Aris, walau ujung-ujungnya putus-putus juga…” kata Echa.

“Yaah, Cha… Udah, gak usah diinget-inget lagi!” kata Hadi.

“Hmm… Kita mau pulang lewat mana nih? Disini jalannya sama aja…” ucap Echa.

“Lewat sana aja ya, Cha! Gue sekalian mau ketemu Aris dulu!” balas Hadi.

“Ngapain?” tanya Echa.

“Ya… Lagi pengen ketemu aja!” jawab Hadi.

“Ada-ada aja lu , Di!” ucap Echa.

“Gak apa-apa kan?” tanya Hadi.

Echa hanya mengangguk pasrah. Semoga aja dia gak ketemu sama Aris. Walau sejujurnya hati kecilnya merasa kangen dengan cowo yang sudah berkali-kali membuatnya menangis.
Saat lewat didepan rumah Aris, dengan sengaja Hadi memanggil Aris. Dia pun keluar dan menampakkan dirinya di hadapan Echa.

“Hadi! Lu sengaja!? Mau ngerjain gue!?” sahut Echa kesal dan salting.

“Di, kok lu sama Echa? Waah… Jangan-jangan…?” ucap Aris.

“Apaan sih!? Gak usah jelous gitu lah! Gue abis dari rumah sahabatnya! Dia Cuma nemenin gue aja…” balas Hadi.

“Ngapain lu?” tanya Aris.

“Hmm… Lu jangan nyebar, ya! Gue abis jadian sama Kalilla…!” jawab Hadi.

“Waaahhh… Selamet, ya!” ucap Aris.

“Di… Pulang! Udah sore!” sahut Echa.

Hadi menurut dan akhirnya mereka pulang. Jujur, saat itu Echa seneng banget bisa ngeliat wajah Aris lagi. Walau jika inget semua perbuatan Aris kepadanya, air mata Echa selalu menetes dengan sendirinya.

Percaya Kata Hati Part. II

Sabtu, 10 Juli 2010

Pagi itu terasa lebih sejuk karena hujan yang turun semalaman, dedaunan terlihat lebih segar dengan embun-embun segar yang membuat udara lebih baik dari biasanya. Berhubung hari ini hari Sabtu, Farah malas untuk bangun pagi, dia ingin meneruskan tidurnya. Hari ini, tidak akan ada yang boleh mengganggu tidurnya, siapa pun itu.

Namun, handphone nya berdering, tidak sekali, melainkan berkali-kali. Sunggung mengusik jam tidurnya. Deringan itu menandakan ada panggilan masuk. Dengan malas, diraihnya benda kecil itu dari atas meja belajarnya.

“Hmm, halo?” sapa Farah dengan suara malas.

“Faraaah… Lu tidur ya!? Rah, gue mau ngajak lu ke Puncak nih… Pagi ini seger banget, enak buat jalan-jalan…” ucap seseorang disebrang sana.

“Ini siapa sih? Sorry, gue mau tidur…” kata Farah.

“Ini gue Dini…! Yaelah Rah, masa seger-seger gini lu malah tidur… Pantes aja badan lu kaku gitu…” kata Dini.

“Aaah, gue males Din…” ucap Farah.

“Ayolaah.. Please! Ada Putra loh! Lu harus ikut… Please bantu gue…” ucap Dini memelas.

“Hah!? Gilang…!?” sahut Farah yang langsung bangun dari tidurnya.

“Siapa…? Gilang? Siapa tuh? Orang Putra kok… Ngelindur ya lu…?” tanya Dini.

“Ehehe… Iya kali… Ok deh, gue ikut… Tapi jemput gue ya…” jawab Farah yang entah mengapa jadi sulit menolak.

“Ya udah, jam setengah 8 gue jemput! Buruan mandi…” kata Dini.

***

Niatnya sih ingin tidur dalam perjalanan. Tapi, hatinya terlalu gelisah melihat Gilang dan Dini duduk berdampingan. Gilang menyetir dan Dini disampingnya sebagai penunjuk arah. Ya, maklum lah, Gilang baru pindah dari Semarang, dia belum tau jalan-jalan di Jakarta dan sekitarnya.

“Ya Allah, kenapa aku sangat tersiksa melihat mereka? Padahal mereka adalah sahabatku. Rasanya aku ingin memisahkan mereka, rasanya aku ingin menarik Dini keluar mobil, aku juga ingin duduk disebelah Gilang…” batinnya.

“Eh, Rah, kok lu ngelamun aja sih? Hayyo lagi mikirin siapa?” tanya Putra yang ternyata sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.

“Aah, enggak kok… Gue masih ngantuk aja…” jawabnya berbohong.

“Yaudah, tidur aja, Rah… Perjalanan masih lumayan kok, masih ada cukup waktu buat lu tidur…” sahut Dini.

“Nah itu dia masalahnya, Din! Gue gak bisa tidur…” balas Farah.

“Hmm, kalo lu mau, lu bisa baca comic yang gue bawa…” kata Putra.

“Mana? comic Detective Conan khan?” tanya Farah semangat.

“Hehehe… Tau aja lu! Nih, keluaran terbaru loh! Gue udah baca, seru banget ceritanya!” jawab Putra sambil memberikan comic yang dimaksud.

Farah membacanya dengan sangat antusias. Yaa, Farah dan Gilang memang sama-sama menyukai comic seri Detective Conan. Bahkan dulu demi membeli comic edisi terbatas, mereka sampai harus patungan! Yaah, namanya juga anak kecil.

“Kalian suka Detective Conan, ya?” tanya Dini.

“Banget…!” jawab Farah.

“Iih, gue mah takut… Banyak pembunuhannya! Sadis deh…” ucap Dini.

“Yaa, memang! Malah itu bagian paling serunya…!” kata Putra. “Coba deh lu baca, nanti ketagihan deh…”.

“Hmm, enggak ah! Makasih…” balas Dini.

***

Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Sebuah villa dikawasan Puncak pas milik Dini. Tak terlalu besar, namun nampak luas karena penataannya yang rapih.

“Psst psst… Rah, sini…” panggil Dini agar Farah menghampirinya.

“Apaan?” tanya Farah yang meninggalkan Gilang di teras depan.

“Rah, ini tempat yang bagus untuk PDKT… Bantu gue ya, Rah…” pinta Dini.

Dan dengan berat hati, Farah meng-iya kan permintaan sahabatnya itu.


Disaat Dini lengah, Farah mendekati Gilang, entah mengapa makin hari perasaannya makin menjadi-jadi. Seakan tak mau lepas! Tapi itu tidak boleh terjadi, sebab perasaan Farah itu hanya akan merusak persahabatan mereka bertiga, hubungan yang susah payah dibina selama ini.

“Hmm, Gilang… Gue mau ngomong sesuatu sama lu…” ucap Farah.

“Apaan, Rah? Ngomong aja…” kata Putra.

“Hmm, ada yang suka sama lu…” kata Farah.

“Siapa?” tanya Putra.

“Dini…” jawab Farah.

“Hah? Serius?” tanya Putra tak percaya.

“Iya… Dan gue janji mau bantu dia…” jawab Farah.

“Tapi gue udah suka sama cewek lain…” ucap Putra.

“Tapi Put, Dini bener-bener menyayangi lu! Gue tau sifat Dini! Sekali sayang, ya sayang! Gue mohon jangan sakiti dia… Dia cuma cewek rapuh yang pernah disakiti, dan disaat dia menemukan cinta barunya, gue gak pengen dia sedih…” kata Farah tanpa memperdulikan ucapan Gilang barusan.

“Farah, cinta itu gak bisa dipaksa… Gue gak ada perasaan apa-apa sama dia! Cuma perasaan sebatas sahabat!” kata Putra.

“Se tidaknya lu coba dulu, Lang! Gak ada salahnya khan?” ucap Farah.

“Mungkin bisa gue coba, tapi kalo gagal gimana, Rah? Gue nanti akan menyakiti 3 hati sekaligus! Hatinya Dini, hati gue dan hati cewek yang gue suka! Itu bukan jalan yang terbaik…” kata Putra.

“Tau dari mana? Siapa tau Allah berkhendak lain!” kata Farah tetap ngotot.

“Gue tau dari hati gue! Hati gue berkata tidak! Dan gue akan tetap pada keputusan itu!” ucap Putra lantang.

Farah diam, dia yakin Gilang tidak akan mengubah keputusannya. Siapapun yang akan membujuknya nanti, keputusan itu tak akan pernah goyah. Itu lah sifat Gilang dari dulu, tetap konsisten dengan satu keputusan, apapun konsekuensinya.

***

Selama di Puncak, Farah membiarkan Gilang berdua dengan Dini, dia menyendiri di kamar, alasannya ngantuk, ingin tidur dan tak ingin diganggu. Yaah, dia ingin membiarkan Dini menikmati harinya bersama Gilang, walau Farah tau Dini dan Gilang tak akan pernah bisa jadian. Tapi setidaknya ada kesan tersendiri yang bisa Dini rasakan.

“Yeah, cinta tak harus memiliki khan? Walau Gilang tidak menyukai Dini, tapi dia sudah mencintai cewek lain. Udah gak ada lagi kesempatan buat gue. Mungkin emang takdir berkata bahwa gue dan dia memang hanya sebatas sahabat, sahabat tercinta.”.

“Mungkin bentar lagi gue harus siap satu dus tissue untuk si Dini. Pasti nanti dia curhat ke gue sambil nangis-nangis karena patah hati… Sama kayak dulu, pas Dini putus sama Deny. Yeah, kasian juga gue sama Dini, disaat dia mulai jatuh cinta lagi, cowoknya gak cinta sama dia. Hmm, bertepuk sebelah tangan… Sama aja kayak gue…”.


Ditengah lamunannya di balkon kamar, tiba-tiba Dini datang menghampirinya.

“Heei? Kayaknya lu ngelamun mulu deh… Kenapa?” tanya Dini.

“Gak apa-apa kok, Din… Cuma lagi sedih aja…” jawab jawab Farah.

“Sedih kenapa? Cerita lah sama gue…” ucap Dini menawarkan diri.

“Hmm, cinta bertepuk sebelah tangan, Din! Cowok yang gue suka, udah suka sama cewek lain!” kata Farah.

“Sama kayak gue dong…” kata Dini.

Sontak Farah terkejut. “Hah!? Apa? Tau dari mana?” tanya Farah.

“Tau dari Putra… Dari tadi siang sampe sore, gue jalan sama dia… Nah kita cerita-cerita… Gue juga sempet bilang kalo gue suka sama dia! Dan dia nolak gue secara halus… Gue salut sama dia! Jarang ada cowok yang bener-bene jaga perasaan cewek…” jawab Dini. Tak ada raut wajah kesedihan yang terlihat, yang ada wajah bangga yang samar-samar.

“Dia emang cowok istimewa… Dia sahabat terbaik gue…” ucap Farah yang ikut larut dalam perasaan Dini. “Sabar ya, Din… Gue yakin nanti lu akan mendapat cinta sejati lu… Yang gak akan menyakiti lu…”.

“Iya… Thanks ya, Rah! Lu tau gak, kata-katanya yang masih gue inget jelas dalam otak gue…” kata Dini. “Dia bilang, ikuti kata hati lu, dan nanti lu akan mendapat kesempurnaan dalam sebuah kehidupan yang sangat berarti…! Sebuah kata-kata yang ringan, namun terus melekat dalam ingatan…”.

“Yaah, itu memang kata yang sering dia ucapkan…” kata Farah.


“Hei? Kalian sedang membicarakan orang ganteng ya?” sahut seseorang dari depan pintu, Putra.
“Yeah? Gue akui iya…” aku Dini.

“Ngapain sih lu tiba-tiba dateng… Gak tau kita lagi seru-serunya apa?” tanya Farah.

“Maaf deh… Dasar cewek! Hobbinya ngegossip!” jawab Putra. “Eh, gue laper nih…!”.

“Makan lah!” ucap Dini.

“Gak ada makanan apa-apa di meja… Makan apa gue? Masa piringnya gue makan…?” tanya Putra.

“Kasian banget sih, nih cowok! Hahaha… Din, kasih makan tuh… Kasian anak orang! Nanti Maminya nangis…” jawab Farah meledek.

“Yeah? Mami? Gue udah gak manggil-manggil Mami lagi ya, kalo laper! Wooo!” ucap Putra membela diri.
“Peace deh…” kata Farah.

“Yaudah, dari pada ribut, mending kita keluar yuk! Nyari makan…” kata Dini.

“Masak aja…” ucap Putra.

“Hahaha… Lu nyuruh Dini masak, Lang? Yeah? Masak air aja dia gak bisa…” sahut Farah.

“Huust! Aib orang jangan dibuka…! Udah ah… Ayo nyari makan… Usus gue udah merengkut nih..!” kata Dini.

***

Seminggu ini, Farah terus menyendiri. Jangankan Dini, Gilang pun sulit menemuinya. Walau satu sekolah, selalu ada saja alasan Farah untuk menghindar. Mungkin dia sedang berusaha berfikir memecahkan masalahnya, dia ingin seperti Conan dan Heiji dalam comic yang dengan mudahnya memecahkan masalah serumit apapun itu.

“Rah? Gue mau ngomong sama lu! Sekarang juga gue mau kerumah lu…” sapa Putra lewat telpon.

“Gue gak ada dirumah, Lang! Besok aja…” balas Farah berbohong.

“Gue gak peduli, mau lu bilang gak ada di rumah, gue akan tetep kerumah lu!” ucap Putra.


Berselang 10 menit, pintu kamarnya diketuk Mamah. Sekali Farah tak menjawabnya, tetapi Mamah tidak menyerah, wanita itu terus mengetuk pintu kamar anaknya.

“Apa sih, Mah?” sahut Farah.

“Ada Gilang dibawah… Dia mau ketemu kamu…” ucap Mamah.

“Bilang aja aku gak ada…” pinta Farah.

“Kamu kenapa, sih? Berantem ya sama Gilang? Tumben banget?” tanya Mamah.

“Mamah mau tau aja sih, itu urusan aku…” jawab Farah.

Tiba-tiba Gilang datang menyusul Mamah. Keinginannya untuk bertemu Farah sudah tidak bisa ditunda lagi. Dia tidak bisa terus dijauhi Farah, sahabat kecilnya yang juga sangat dia sayangi. Sayang saja, keduanya tidak ada yang berani menunjukkan perasaan mereka.

“Gue mohon, Rah. Kita harus ngomong!” pinta Putra.

“Mamah tinggal, ya!” kata Mamah. “Lang, jangan berantem mulu sama Farah…”.

“Iya Tante…” balas Putra, kalem.

“Apa sih yang mau diomongin? Kayaknya gak ada apa-apa deh…” kata Farah.

“Apanya? Lu sadar gak sih? Udah seminggu ini lu berubah jadi aneh, lu menjauh dari gue dan Dini. Maksudnya apa? Mau ngedeketin gue sama cewek itu? Dini aja mengerti kalo gue gak bisa membalas rasa sayangnya! Masa lu enggak!” ucap Putra.

“Bukan masalah Dini dan lu! Gue hanya lagi terjebak perasaan gue sendiri…” kata Farah mengakui.

“Lu kenapa? Cerita lah, sama gue… Lu masih menganggap gue sahabat lu, khan?” tanya Putra dan Farah mengangguk.

Farah mulai bercerita tentang dirinya yang menyukai seseorang, tapi cowok itu sudah lebih dulu menyukai cewek lain. Farah menjadi serba salah, dia bingung dengan perasaannya sendiri. Dia ingin melihat cowok itu bahagia dengan pilihannya, tapi disisi lain hati Farah sungguh tak rela melepasnya.

“Siapa cowok itu, Rah?” tanya Putra penasaran.

“Entah lah, gue juga gak tau siapa cowok itu… Yang gue tau, gue sangat mengenalnya…” jawab Farah yang sudah berlinang air mata. “Dan gue mohon jangan terus bertanya, gue sudah cukup lelah dengan semua ini.”.

“Ok, jika itu yang lu mau… Gue sahabat lu, gue sayang sama lu… Gue gak mau melihat lu menangis seperti ini…” ucap Putra sambil menghapus air mata yang membasadi pipi Farah.

“Cowok itu kamu, Gilang! Aku sayang sama kamu! Tapi siapa cewek itu, yang sudah berhasil merebut hati kamu? Sungguh aku tidak rela…” batinnya.

“Andai kamu tau bahwa aku mencintai kamu, Farah… Akankah aku bisa mengganti posisi cowok itu di hati kamu? Rasanya ingin aku bunuh saja dia yang sudah membuatmu seperti ini…” ucap hati Putra.


-BERSAMBUNG-

Percaya Kata Hati Part. I

Rabu, 07 Juli 2010
Gemuruh petir mulai terdengar seiring rintik-tintik hujan yang turun dari langit. Orang-orang di taman itu segera lari berhamburan mencari tempat berteduh. Namun tidak untuk Farah, remaja 16 tahun itu tetap duduk di bangku taman walau tubuhnya mulai basah oleh air hujan. Dia masih mengharap Gilang datang ketempat itu sesuai dengan janji mereka 5 tahun lalu sebelum Gilang pindah keluar kota.

“Apa mungkin Gilang melupakan janji itu?”

“Apa, dia belum kembali dari Semarang?”

“Atau, dia sudah tidak ingin bertemu denganku lagi?”

Beribu pertanyaan mulai muncul dalam benaknya. Sahabat kecilnya itu tidak mungkin melupakan janji yang mereka buat. Bahkan dulu Gilang lah yang tidak pernah mengingkari janji. Dia selalu memegang ucapannya dan selalu bertanggung jawab. Tapi sekarang dia kemana?

Hari semakin sore, dan hujan yang turun pun mulai berhenti. Tapi cowok itu masih belum menampakkan diri. Dengan keadaan basah kuyup dan hati yang kecewa, Farah kembali kerumahnya. Hatinya sakit, melihat kenyataan bahwa sahabat kecilnya yang sangat dia tunggu-tunggu malah mengecewakannya dengan mengingkari janji yang pernah mereka buat 5 tahun lalu.

***

Pagi itu, ruang Kepala Sekolah terlihat ramai oleh anak-anak cewek. Entah ada apa diruangan itu. Yang Farah tau, tempat itu adalah ruangan sebuah Kakek tua menyebalkan yang seharusnya sudah pensiun. Mungkin ada anak yang berbuat ulah dipagi hari sehingga harus berurusan dengan KepSek.

“Eh eh, ada apa sih?” tanya Farah kepada Dini yang sedang ikut-ikutan meramaikan suasana.

“Ada cowok ganteng yang pindah di SMA kita, Rah… Kayaknya sih seumuran kita, siapa tau aja bisa sekelas…” jawab Dini penuh semangat.

“Yeah? Cowok ganteng? Pindahan dari mana sih?” tanya Farah.

“Dari Semarang… Kalo gak salah, namanya Putra…” jawab Dini.

“Gue kira Gilang…” ucap Farah dalam hati. “Pindahan dari Semarang? Ngomongnya medok jawa dong… Iddiiih….? Hehehe…” kata Farah.

“Eh? Belum tentu!” kata Dini tak mau kalah.

“Yaudah lah, males gue ngurusin tuh orang… Kenal aja enggak! Temenin gue ke kelas yuk!” pinta Farah.

“Ayo dah, tapi gue liat PR Fisika lu ya! Gue belum ngerjain, susah banget soalnya…” ucap Dini.

“Hmm… Kebiasaan…” balas Farah.


Pak Joko selaku wali kelas memasuki kelas X.2 dengan tampang segar. Beliau mengucap salam lalu mengenalkan seseorang, murid baru.

“Pagi anak-anak. Di hari yang cerah ini, kita mendapat anggota baru. Dia pindahan dari Semarang, namanya Gilang Saputra Aditama…” ucap Pak Joko

Glek! Rasanya bagai tersambar petir di pagi hari. Apa!? Gilang? Jadi Gilang murid baru itu? Dia yang dipuja-puja cewek satu sekolah padahal ini hari pertamanya di SMA? Apa!? Gak salah? Oh tidak!

Farah mendapati Gilang yang tengah menatapnya. Tatapan bersahabat, nampak segar ditambah senyum simpulnya yang menarik hati. Tapi, mengingat kejadian kemarin sore, Farah mengurungkan niatnya untuk membalas tatapan bersahabat itu.

***

“Aduh Rah, gue makin tergila-gila sama Putra… Cakep banget sih, udah gitu duduknya pas banget dibelakang kita! Jadi mati gaya gue…” ucap Dini saat jam istirahat.

“Aduh Din, dari awal masuk sampe jam istirahat, yang lu omongin si Putra mulu deh!? Bosen gue ngedengernya…” balas Farah jutek.

“Ih? Kok jadi lu yang kesel gitu sih? Apa jangan-jangan lu ikutan naksir sama cowok itu…? Makanya kuping lu panas dengerin ocehan gue tentang Putra…? Hayyo ngaku!” kata Dini.

“Hah!? Apa? Naksir…? Aduh Din, kalo gue naksir sama cowok sombong itu, mungkin Jakarta akan dilanda tsunami… Iiiih, gak banget deh…” kata Farah.

“Cowok sombong? Dari mana lu tau kalo dia sombong? Kita aja baru mengenal dia hari ini… Atau sebelumnya lu pernah ketemu dia?” tanya Dini.

“Eeeh Din, liat tuh tampang cowok itu… Sombong banget tau…!” jawab Farah yang malah salting.

“Yeah? Belum tentu…” kata Dini.

“Liat aja nanti, lu bakal nyesel mengenal dia…” kata Farah.

Tiba-tiba sesosok cowok datang menghampiri mereka yang sedang berdebad di lorong kelas. Cowok itu tidak lain adalah Gilang atau mungkin lebih familiar dipanggil Putra.

“Hei… Hmm, Farah, boleh kita ngobrol sebentar?” tanya Putra.

Farah diam, hanya Dini yang merespons. “Waaah, Rah… Putra mau ngobrol tuh sama lu…” kata Dini.

“Apaan sih…?” kata Farah.

“Hmm, gue cuma minta waktunya sebentar aja… Please…” pinta Putra.

“Tuh, Rah… Jangan ditolak… Demi gue deeh…” kata Dini.

Akhirnya Farah menurut. Putra mengajak Farah duduk di bangku taman sekolah untuk mengobrol. Akhirnya kedua sahabat yang telah berpisah sekian lama, kembali bertemu.

“Ada apa? Gue gak punya banyak waktu…” tanya Farah.

“Rah, kok sekarang lu jadi sombong gitu sama gue? Gue punya salah ya?” tanya Putra.

“Lu gak punya salah kok… Kita aja baru kenal…” jawab Farah.

“Farah… Ini gue, Gilang… Mungkin anak-anak manggil gue Putra, tapi gue tetep Gilang! Temen masa kecil lu…” ucap Gilang.

“Oooh, jadi lu masih nganggep gue temen kecil lu? Setau gue, Gilang gak pernah ngingkarin janji…” kata Farah.

“Oooh, gue minta maaf tentang peristiwa kemarin… Sebenernya gue mau banget dateng, tapi waktu itu gue masih dalam perjalanan, gue belum sampe Jakarta. Gue coba SMS lu, telpon lu, tapi nomor lu gak aktiv… Pas gue telpon rumah lu, katanya lu tidur… Dan gue bisa apa? Gue sampe Jakarta jam 9 malem…” jelas Putra.

“Lu gak tau apa? Gue nungguin lu ditaman itu kayak orang stress, ujan-ujanan… Dan sekarang dengan gampangnya lu minta maaf sama gue…? Gak bisa gitu, Lang… Gue terlanjur sakit hati karena lu gak dateng sore itu…” kata Farah.

Putra memeluk Farah dan sekali lagi meminta maaf, mungkin Putra melakukan hal itu untuk mengingatkan kembali masa kecil mereka. Jika salah satu dari mereka ada yang ingin meminta maaf, pasti mereka berpelukan dan mengutarakan maaf mereka.

“Maafin gue ya Rah… Gue gak mau kehilangan sahabat terbaik seperti lu…” ucap Putra.

“Gue juga gak mau kehilangan sahabat seperti lu, Lang… Maaf, kemarin gue kecewa berat sama lu…” kata Farah yang langsung luluh hatinya.

“Yaudah, kita baikkan ya… Jangan marahan lagi…” ucap Putra.

Belum sempat Farah berbicara, bunyi bell tanda berakhirnya jam istirahat berbunyi. Terpaksa mereka kembali kekelas, walau sebenarnya masi ingin melepas rindu setelah 5 tahun lamanya tak bertemu.

***

Pulang sekolah, Putra menunggu Farah didepan pintu gerbang sekolah. Dia ingin mengajak Farah pulang bareng. Selama dia menunggu, setiap cewek yang melintas didepannya pasti menebar senyum, baik teman sekelas, atau pun para kakak kelas yang berani menggodanya.

“Eh, Farah, pulang bareng yuk…” ajak Putra.

“Ayuk…” balas Farah yang menerimanya dengan senang hati.

Melihat Farah diboncengi Putra, rasanya hampir seluruh cewek disekolah itu menatap Farah dengan tatapan super iri. Termasuk Dini, teman sebangkunya. Farah pun merasa menjadi cewek beruntung yang paling istimewa. Hehehe…


Sebelum pulang kerumah, mereka mampir ke taman yang ada di komplek perumahan tempat mereka tinggal. Di taman itu lah, tempat yang seharusnya menjadi tempat pertama mereka bertemu setelah 5 tahun berpisah. Dan ditempat itu juga Farah rela hujan-hujanan demi sahabat tercintanya.

“Harusnya kemarin sore lu dateng kesini…” ucap Farah.

“Iya iya… Gue tau, Farah Azriella Dewi… Hehehe…” kata Putra.

“Heei, lu orang pertama yang mengucapkan nama gue dengan benar! Hehehe…” kata Farah.

“Loh? Kok gitu?” tanya Putra.

“Iya, temen-temen gue kesulitan mengucap nama lengkap gue… Mereka mengucapkan Farah Azrilela Dewi… Hehehe…” jawab Farah.

“Hahaha… Pantes aja… Nama tengah lu emang agak sulit…” kata Putra.

“Yeah? Oia, kok lu bisa ganti nama gitu sih? Perasaan dulu lu dipanggil Gilang, kok sekarang Putra?” tanya Farah.

“Iya tuh, dulu disekolah gue yang di Semarang, temen sekelas gue juga ada yang namanya Gilang, dan gue sebagai murid baru harus ngalah… Jadilah gue dipanggil Putra… Tapi kalo lu mau manggil gue dengan sebutan Gilang juga gak apa-apa kok…” jawab Putra.

Mereka mengobrol panjang lebar, mengenang masalalu mereka yang indah. Penuh canda tawa, suka duka, yaah, namanya juga anak kecil… Dan sekarang mereka bertemu kembali, sudah makin dewasa dan perasaan mereka pun mulai berbeda. Sepertinya mereka saling memendam perasaan cinta, namun mereka tepis jauh-jauh dengan alasan mereka bersahabat dan tidak ingin merusak persahabatan mereka dengan perasaan mereka yang belum tentu lebih baik.

***

Saat Farah membuka account twitter-nya, dia mendapat Direct Messages dari Dini,
Rah, pas lu pulang bareng sama Putra, semua cewek disekolah kita pada mencaci-maki lu tau, mungkin mereka pikir, “bagaimana bisa, anak baru ngajak cewek pulang bareng?”. “Jangan-jangan dipelet lagi?”. Uaah, banyak deh caci-maki mereka buat lu. Yaah, gue gak ikut-ikutan looh, gue cuma ngiri doing… Bagi-bagi rahasia dong, Rah… Kok kayaknya lu udah deket gitu sama Putra…

Itu lah DM yang Farah terima dari Dini. Agar tidak terjadi kesalah pahaman, Farah pun menceritakannya dari awal hingga akhir se-detail-detailnya. Dini pun mengerti, dia malah meminta tolong kepada Farah agar mendekatkannya kepada Putra, yaa, Dini mengakui bahwa dirinya sudah kepincut pesona anak pindahan dari Semarang itu. Sebagai sahabat, Farah mendukungnya walau sebenarnya agak tidak rela.

Please ya, Rah… Lu khan tau, gue gak gampang suka sama cowok… Bantu gue ya, Rah… Lu khan sahabatnya dari kecil, pasti dia nurut sama lu… Ok, Rah…

Dan Farah hanya membalas,
Ok…

“Ya Tuhan… Bagaimana ini? Aku ingin melihat sahabatku bahagia, karena aku menyayanginya… Tapi, orang yang bisa membuat sahabatku bahagia adalah orang yang sangat ku cintai sejak dulu…”

“Apa aku harus mengalah? Tapi aku tidak bisa berbohong bahwa hati ini sakit…”

“Yeah, mungkin ini takdir ku… Aku mungkin hanya bisa bersahabat dengannya, tidak bisa memilikinya seutuhnya… Tidak bisa menempatkan diriku di dalam hatinya…”.

***

Mulai detik itu, Farah berusaha mendekatkan Dini dengan Putra. Itulah keputusannya, dan dia harus konsisten dengan apa yang telah dia putuskan.

“Rah, temenin gue ke Mall yuk…” pinta Putra suatu hari.

“Ngapain?” tanya Farah.

“Gue mau beli comic… Yaa, sekalian temenin gue nonton juga, kebetulan ada film bagus tuh…” jawab Putra.

“Hmm, sama Dini juga ya…” ucap Farah.

“Aaah? Enggak ah! Gue maunya sama lu aja… Gue cuma pengen berdua…” kata Putra yang tak setuju, namun Farah harus tetap pada jalurnya.

“Please… Nanti kita dikira pacaran, nanti seluruh cewek di sekolah musuhin gue lagi…” pinta Farah.

“Enggak ah! Rah, kita dari kecil juga udah biasa berdua kalo kemana-mana… Itu juga gak ada yang complain… Sekarang gak ada salahnya, laah!” balas Putra.

“Sekarang beda, Lang… Lu sekarang ganteng, popular, direbutin seluruh cewek di sekolah… Nah gue? Beda banget sama lu… Kalo ada Dini, seenggaknya ada alibi buat nyelametin gue dari amuk massa…” ucap Farah.

“Aaakh, terserah lu deh… Gue gak mau berdebad sama lu…” kata Putra.

“Naah, gitu dong, Gilang…” ucap Farah senang.

***

Semoga yang aku lakukan ini benar, ini yang terbaik untuk semua. Dan semua ku lakukan demi sahabat-sahabat ku yang paling aku sayangi… Perasaan aku tidak ada artinya sama sekali dibandingkan perasaan cinta Dini untuk Gilang.


- BERSAMBUNG -

Di Balik Pintu Emas Part. II

Selasa, 06 Juli 2010
Part. II
Langit makin gelap dan angin semakin kencang. Tiba-tiba sesosok gadis cantik bertubuh tinggi semampai muncul di samping empat sahabat. Spontan mereka berteriak dan menjauhi tubuh yang entah bernyawa atau tidak itu.
“Zenn, lu khan pemberani juga galak… Hajar tuh orang, dong!” pinta Rere.
“Eet, kalo dia beneran orang mah gue berani! Nah ini orang-orangan!” kata Zenn.
“Ga, lu khan pinter… Lu ngapain kek, biar kita lolos dari sini!” kata Rere.
“Gue harus ngapain?? Yaa, kita hanya bisa ber-doa…” ucap Meiga.
“Dari tadi gue udah berdoa tapi gak ilang-ilang tuh hantu…” sahut Kelly.
“Aaaah… Terus gimana nih…?” tanya Rere.
“Gak tau! Ini semua salah lu! Makanya jangan macem-macem! Gini deh!” jawab Zenn kesal.
Mereka saling menyalahkan, jadi ribut sendiri dan heboh sendiri. Tiba-tiba angin makin kencang berhembus. Kelly, Zenn, Rere dan Meiga makin takut.
“Hee… hei… Lu siapa? Ngapain dirumah kita?” tanya Zenn memberanikan diri.
Makhluk itu tertawa dan berkata, “Hihihi… Jangan ganggu saya, ini milik saya…”.
“Tapi kita udah membeli rumah ini!” sahut Rere.
“Lagi pula, ini juga bukan tempat kamu… Tempat kamu diatas sana!” kata Meiga.
“Bawa Kevin untukku dan aku akan pergi! Jika tidak, kalian akan sama sepertiku!” ucap makhluk itu dan tak lama kemudian menghilang. Rere, Kelly, Zenn dan Meiga pun sudah dapat keluar dari tempat itu.
**
Keesokan harinya, saat sarapan mereka membahas peristiwa yang mereka alami kemarin. Semua berusaha mencari jalan keluar yang terbaik. Juga memecahkan arti permintaan makhluk penghuni kamar pintu emas tersebut.
“Hei, kenapa kemarin dia menyebut nama Kevin? Apa dia bisa kenal sama Kevin?” tanya Rere.
“Mungkin dia tau, kalo Kevin itu cowok terganteng di sekolah… Hehehe…” jawab Kelly.
“Yeah? Masa hantu macam dia bisa kenal cowok ganteng?” tanya Rere heran.
“Hmm, menurut buku yang pernah gue baca, kalo makhluk halus menyebutkan sesuatu yang aneh, berarti dia punya dendam atau semacamnya….” jawab Meiga sambil mengolesi rotinya dengan selai cokelat.
“Apa kematiannya ada hubungannya sama Kevin? Tapi Kevin masih kelas 2 SMA, masa iya dia udah berani membunuh orang sampe gentayangan gitu…” tanya Kelly.
“Siapa tau aja dia gak sengaja… Kemungkinan itu ada loh!” jawab Rere.
“Dari pada pusing, mending kita tanya sama pemilik rumah sebelumnya. Lu tau orangnya khan Ga?” tanya Zenn.
“Tau tau… Dia temen kantor bokap gue kok! Itu bisa gue atur!” jawab Meiga.
“Secepatnya ya Ga! Lebih cepat, lebih baik!” ucap Zenn.
**
Sepulang sekolah mereka bertemu dengan orang yang dimaksud. Meiga sudah merencanakannya sebaik mungkin. Mereka bertemu di café tempat Kelly, Zenn dan Rere bekerja. Café nya Kevin.
“Pak, tidak sengaja kami membuka kamar pintu emas tersebut. Dan kami mengalami hal yang sangat aneh! Bisa tolong jelaskan?” tanya Zenn yang gak mau buang-buang waktu.
“Sebenarnya kamar tersebut adalah kamar milik Non Dinda. Tapi dia meninggal 3 tahun lalu. Dia dibunuh dikamarnya sendiri.” jawab Pak Wawan yang ternyata bekas supir dirumah itu.
“Lalu, siapa pembunuhnya, Pak?” tanya Kelly dengan penuh penasaran.
“Saya juga tidak terlalu tau. Tapi yang jelas, sehari sebelum Non Dinda terbunuh, ada teman laki-lakinya yang datang. Setelah laki-laki itu keluar, Non Dinda mengunci diri dikamarnya sampai ditemukan terbunuh pagi harinya…” jelas Pak Wawan.
“Kalau boleh tau, siapa nama laki-laki itu?” tanya Meiga.
“Hmm… Aduh saya lupa, Non. Hmm, kalau tidak salah namanya Alvin… Eeeh, bukan! Maksud saya Kevin!” jawab Pak Wawan.
“Kevin!?” semua histeris.
“Iya, kalian kenal?” tanya Pak Wawan.
“Dia teman satu sekolah saya, Pak! Apa ini orangnya?” tanya Kelly sambil menunjukkan foto Kevin yang dia simpan didalam dompet.
Pak Wawan nampak terkejut dan mulai mematung. “Iy, iya! Iya itu orangnya!” jawab Pak Wawan gugup.
**
Mereka tidak berani pulang kerumah. Hari ini mereka menginap dirumah Meiga, karena hanya rumah Meiga-lah yang mampu menampung mereka.
“Girls, gue gak percaya kalau yang dimaksud Pak Wawan itu Kevin!” ucap Meiga.
“Sama… Gue bener-bener gak percaya kalau Kevin, cowok popular, cool, ganteng dan pinter disekolah ternyata adalah seorang pembunuh!” kata Kelly yang nampak sangat kecewa.
“Iya ya… Tapi, kenapa Kevin gak masuk penjara?” tanya Rere.
“Kejadiannya khan 3 tahun yang lalu… Mungkin orang-orang lupa atau gak tau bahwa Kevin lah pembunuhnya… Ditambah si Dinda itu tinggal sendiri dirumah itu, orang tuanya lama meninggal…” jawab Zenn.
“Lagi pula, 3 tahun yang lalu Kevin masih dibawah umur dan hukumannya pasti sangat ringan…” ucap Meiga.
“Terus kita gimana? Masa kita selamanya gak balik kerumah itu? Kita udah nabung buat beli rumah biar bisa lepas dari orang tua, masa sekarang kita kalah sama makhluk tanpa nyawa itu!?” tanya Zenn.
“Emang lu berani ngadepin hantu gentayangan?” tanya Rere.
“Gampang! Kita seret aja Kevin, kita kasih ke si Dinda! Beres!” jawab Zenn.
“Jangan!! Kasihan Kevin…” sahut Kelly.
“Kel, gue tau lu suka sama Kevin, tapi apa lu mau pacaran sama seorang pembunuh! Mending lu lupain Kevin! Kevin itu gak baik! Bisa-bisa nasib lu sama kaya si Dinda!” kata Zenn.
“Udah lah, besok kita seret Kevin! Gue juga gak mau kehilangan rumah itu!” ucap Rere.
Setelah dipaksa, akhirnya Kelly pun setuju. Dengan berat hati dia relakan Kevin, orang yang dicintainya untuk menebus kesalahannya dimasa lalu.
**
Saat membuka matanya, Kevin terkejut mendapati dirinya sudah ada didepan kamar pintu emas. Dia tak percaya, ternyata bujuk rayu Kelly, Rere dan Zenn berujung pada masa lalunya yang kelam. Membunuh Dinda yang kala itu adalah pacarnya.
“Kalian tega banget sama gue! Ngapain kalian bawa gue kesini!?” tanya Kevin kesal dan takut.
“Dinda mau ketemu lu!” jawab Zenn.
“Dinda!? Dia udah mati 3 tahun lalu! Gue gak ada urusan sama dia!” kata Kevin. Tubuhnya menggigil ketakutan.
Karena terus memberontak, dengan terpaksa Kelly, Zenn, Rere dan Meiga menyeret paksa Kevin untuk masuk kedalam kamar itu.
“Dinda… Kita udah bawa Kevin!” ucap Zenn.
Langit kembali berubah gelap, pagi itu seketika berubah menjadi tengah malam yang sunyi senyap. Angin berhembus dan muncul lah sesosok makhluk cantik, mirip seperti lukisan yang terpajang didinding.
“Kevin?” ucap makhluk itu yang ternyata Dinda.
“Mau apa lu!? Lu udah mati!” ucap Kevin yang masih dijaga ketat oleh 4 sahabat.
“Kenapa sih dulu kamu tega membunuh aku? Aku sayang, Vin sama Kamu… Tapi kenapa kamu malah menyia-nyiakan cinta aku? Dan sampai nekat membunuh aku?” tanya Dinda.
“Gue jijik dikejar-kejar cewek kutubuku kaya lu! Yang kuper, dan bisanya bikin gue malu! Lebih baik lu gue musnahin supaya gue bebas dari fanatic macam lu!” jawab Kevin tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
“Tapi kenapa kamu enggak menghargai perasaan aku sedikit pun!” tanya Dinda.
“Karena gue emang gak ada perasaan sama lu! Malah gue BENCI sama lu!” jawab Kevin.
Dinda marah, ternyata orang yang dia cintai tidak punya hati, yang ada diotaknya hanya ada popularitas. Dengan paksa, Dinda memegang tangan Kevin, sangat keras sampai Kevin pun mengerang kesakitan dan lama-lama putus. Kevin meninggal seketika karena urat nadinya turut terputus.
Kelly yang melihatnya yang bisa menangis meratapi kematian orang yang dia agung-agungkan selama ini. Kevin mati ditangan seorang arwah penasaran yang menuntut dendam. Melihat tubuh Kevin yang penuh darah dan pergelangan tangan yang sudah tidak menyatu lagi. Tragis… Sungguh Tragis!
“Terima kasih kalian sudah membantu saya. Sesuai ucapan saya tempo lalu, saya akan pergi…” ucap Dinda dengan rasa puas.
“Tapi apa mayat Kevin akan tetap berada disini atau menghilang bersama lu?” tanya Zenn.
“Tenang saja. Rumah ini akan bersih. Tak ada darah. Besok orang akan melihat tubuh Kevin tergeletak tak bernyawa didalam kamarnya. Sama seperti apa yang aku alami 3 tahun lalu…” jawab Dinda.
“Dan untuk kamu, Kelly. Kevin bukan lah cowok baik-baik. Kamu sangat lebih pantas mendapatkan cowok yang jauh lebih baik dan popular daripada Kevin!” ucap Dinda dan Kelly hanya bisa mengangguk. Dia masih terpukul.
Angin kembali bertiup, Dinda menghilang bersama mayat Kevin yang mengerikan. Semua kembali seperti sedia kala. Normal, tanpa ada sedikitpun keanehan yang menyelimuti rumah itu. Dinda sudah tenang dialam sana dan Kevin sudah mendapat apa yang sepantasnya dia dapat.

-Tamat-